PUISI: RINTIK DI BALIK SEPI
Rintik di Balik Sepi
Duhai rintik yang jatuh tiada terperi,
Mengiring duka di senyap malam yang mati,
Engkau pergi, wahai cahaya yang abadi,
Tinggallah bayangmu terukir di lubuk hati.
Jejakmu sirna, namun tiada jua terhapus,
Dalam palung rindu, engkau tetap menyusup,
Setiap helaan napas, kurasakan getir,
Bagai embun yang pilu, jatuh dalam desir.
Engkau bintang di langit yang jauh,
Namun cahayamu, senantiasa merayu,
Meski waktu membilas duka di sungai waktu,
Rindu ini kekal, terpatri tak layu.
Dalam sunyi, bisik namamu melayang,
Berlabuh di relung hati yang kosong dan rawang,
Wahai yang pergi, akankah kau tahu?
Di dalam sepi ini, rinduku membeku.
Segala yang fana hilang dalam arus waktu,
Namun kenanganmu, bak ukiran pada batu,
Tersimpan dalam jiwa, bagaikan perhiasan,
Meski getir, indah dalam kenangan.
Tiap saat kulalui, terasa abadi,
Laksana duka yang tiada pernah surut,
Di balik senja yang kelam, ada namamu yang terus kubisik,
Dalam rintik yang jatuh, membasahi hati yang letih dan lirih.



Komentar
Posting Komentar